mosaik instant clarity
poni yang dulu menggantung di atas alisnya kelihatan lebih panjang, tapi rambutnya yang melambai sepinggang di potongnya lebih pendek. pipinya kelihatan lebih gemuk ketimbang tiga tahun sebelumnya. hari itu, di tahun 1996 ia datang ke tokyo-jepang untuk mempromosikan album solo pertamanya. di hadapan masa itoh sang jurnalis musik metal kenamaan jepang, michael kiske menceritakan pengalaman dan alasannya mengapa instant clarity yang bookletnya hitam ungu-kebiruan itu bisa lahir dari kepalanya.
dalam sesi tanya jawab itu, michi-nama panggilan michael kiske-terlihat sangat antusias menjawab seluruh pertanyaan itoh. seperti biasa, itoh bertanya dengan bahasa jepang dengan didampingi oleh seorang interpreter. sementara puluhan penggemar michi duduk takzim sambil memegang box cd, mungkin berharap michi akan menandatanginya untuk mereka.
salah satu ucapan michi yang saya suka ketika menjawab pertanyaan itoh…
i pretty much like reborn. when things like happen in the band like people used to be friends and stuff like that and so we arent friends anymore, its somethings are not very nice. its like, its hurt. so you need a period to get through it. which was this record for me. getting things out of my self, out of my system. now i feel like i’m ready to go. i feel like i’m my self again.
seperti cerita michi, album ini merefleksikan apa yang terjadi setelah ia ditendang dari helloween paska jebloknya penjualan album chameleon. meski tidak semuanya, tapi sebagian besar lagu di album instant clarity memperlihatkan hal tersebut. tentang kegeraman dia terhadap mantan teman-teman satu band, terhadap para produsen musik yang senangnya mengatur band serta apa yang bisa dijual di pasar, dan juga tentang spiritualitasnya yang berubah seiring waktu.
trek pembuka be true to your self yang memperlihatkan kematangan vokal michi dalam mencapai nada tinggi, new horizon dimana seperti mengingatkan saya pada masa-masa metal michi di helloween, hunted yang terdengar kelam namun memiliki optimisme, rock balad yang sendu seperti somebody somewhere; always; dan that’s when you closest to heaven, atau yang sedikit nyleneh seperti thanks a lot. semua trek tersebut seperti kegeraman yang dimanifestasikan dengan baik dan terkontrol. bagi saya, album ini seperti kepingan-kepingan dengan berbagai warna yang membentuk sebuah mosaik dan memberi gambaran yang utuh tentang pemikiran michi di waktu itu.
menurut saya tak ada filler track di album yang berisi 14 lagu ini. semuanya bisa dinikmati dengan enak, lirik yang mudah dicerna dan cerdas, chorus yang catchy serta performa vokal michi yang prima membuat album ini layak untuk dimiliki. buat sekedar koleksi juga bisa, karena album ini (rilisan lawas ato versi indonesia) hampir punah di pasaran, mungkin di pasar klitikan masih bisa dicari, itupun kalau beruntung.
untuk rilisan remastered saya merasa kurang cocok, soalnya lagu tambahan yang ada di album keluaran tahun 2006 itu soulnya kerasa nggak ngeblend.
5 trek pilihan saya:
_ do i remember a life
_ somebody somewhere
_ when you are down on your knees (that’s when you closest to heaven)
_ hunted
_ new horizon
yah ini memang bukan review, cuma kesan saja, dan pamer kalo punya kasetnya versi indonesia. nanti kalo michi jadi datang ke negara tercinta ini pas promo unisonic, kaset ini bakal saya bawa buat ditandatangani, dan di pamerin lagi..hehe…
oya, untuk video wawancaranya bisa di cari di yt, linknya saya lupa. maafkan
