Archive for December, 2009

live and learn

Posted in musik on 24/12/2009 by topantopian

Live And Learn – Angra
[Music: Rafael Bittencourt and Kiko Loureiro / Lyrics: Rafael Bittencourt]

Remember the first time you’ve faced the dark
Why were you so afraid?
Hiding so many secrets inside
When fears have got to be tamed

I promise I’ll still be there
To keep my promise
I’ll still be there

To watch over dreams at night
And follow you through the day
You shot the doors but I’m right behind
Where shadows remain

I promise I’ll still be there
To say I promise
I ‘ll still be there

Don’t ask me why we’ll be like brothers
Skating on the ice of mortal loneliness

Live and learn with your mind
Find a way out of madness
You dream on (of) paradise
Who’s gonna take you there

bagi saya, mendengarkan lagu ini seperti sedang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi di jalan lintas propinsi sendirian. dan lampu sorot yang meraba-raba jalanan di tengah kegelapan yang sepi seperti menggoda untuk menarik gas lebih dalam..

lalu, lalu, dan tiba-tiba, dari arah belakang, ada motor lain yang datang, …menggeber knalpotnya, si penunggang motor menoleh dan membuka sedikit kaca helmnya. kami saling bersitatap, seakan tahu apa yang harus kami lakukan untuk mengisi gelapnya malam itu.

persneling berpindah, dia melesat..tak ada pesan lain selain mengajak untuk berduel..

dan dua lampu sorot saling berkejaran, menikung, menyalip kendaraan lain, bunyi persneling berpindah cepat, jarum speedometer merambat ke kanan, 110, 120, 130, 145, mendekati batas kecepatan tertinggi. satu kilometer, dua kilometer terlampaui.

lalu tiba di sebuah persimpangan, melambat, mengklakson dan saling menganggukkan kepala lalu berpisah.

bunyi knalpot yang menderu sayup-sayup tergantikan suara detak jantung yang masih memburu. menginginkan kesempatan yang baru saja berlalu untuk datang kembali…

mbulet bener yah nulisnya, wes pokonya enjoy bener nih lagu

setel lagi lagunya…haha..

menunggu

Posted in Uncategorized on 23/12/2009 by topantopian

senja sebentar lagi beranjak dari kaki langit. langit pun mulai kelam. sementara hujan baru saja melabuhkan tetes terakhirnya di atas daun euforbia berwarna merah.

dia, duduk di atas dinding teras rumah. kedua kakinya menjuntai berayun pelan. sejenak dipandanginya yang ada di depan kedua matanya.

berjejer bunga-bunga euforbia bermacam warna, merah tua, jambon, kuning, dua pohon palem yang baru ditanam 6 bulan lalu, masing-masing masih berselimut air hujan.

pandangannya beralih ke tempat semua tanaman itu tumbuh. tanah berwarna coklat tua yang masih sangat basah. sorot matanya datar, perlahan tirai matanya menutup. indera penciumannya yang bermain. dicobanya untuk menyesap semua bebauan, rasa yang selalu dimiliki kala hujan selesai turun.

pikirannya kemudian melesat cepat, membawa ke semua peristiwa saat hujan mengiringi langkahnya menyusuri bermacam kota bersama seseorang dari masa lalu.

ia lalu mengambil kopi yang ada di sampingnya. dan seperti tadi, ia menutup kembali tirai matanya sebentar, meraba aroma kopi telah diseduhnya lima menit sebelumnya, lalu menyisipnya sedikit. memberikan sensasi yang sama seperti aroma tanah selepas hujan di lidahnya.

agak enggan ia merogoh saku celananya, diambilnya nokia kesayangannya. kedua jempolnya dengan cepat menulis pesan pendek.

emtah, hujan sope ini ato koph yg mbuatku ingt pdmu. aku ingin kau di sini. di smpngku. bcfrita. mis u

lalu menekan tombol kirim.

terkirim ke +628171893xx

ia meletakkan telepon selularnya. layar kecil itu meredup. tangannya beralih ke cangkir kopi. meminum kembali sedikit. butir-butir kasar berwarna hitam kembali tertinggal di pinggiran. membekas memberi garis yang jelas.

langit mulai kelam, senja telah beranjak dari kaki langit. ia menunggu balasan. berpikir, masih ada setengah jam hingga air di cangkir itu tinggal menyisakan ampas..